Kisah Yang Kembali (Cerpen)
Tittle: Kisah Yang Kembali
Author: Hanum Bella
Cast: Bagas Rahman D. Saputra , Agatha Chelsea Terriyanto and others.
Genre: Sad, Romance, Happy
There's nothing I could say to you
Nothing I could ever do to make see
What you mean to me
All the pain the tears I cried
Bagas POV
Aku tahu, dia sangat kecewa dengan semua kenyataan ini. Semua yang terjadi padaku dan dengannya. Aku memang lelaki yang tak punya hati, kuakui itu semua tanpa bayang semu sedikitpun. Memang salahku telah menyakiti hati sekaligus jiwanya. Memilih wanita lain tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun. Tak dapat ku pungkiri, bahwa saat ini. Saat - saat dimana diriku telah menyesal dengan semua ini. Tak ada yang bisa kukatakan pada dirinya. Tak ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya mengerti. Aku mulai sadar, arti dirinya bagiku. Semua rasa sakit air mata bercucuran menghiasi harinya. Sungguh.. Aku telah menyakitinya.
"Bagas, kenapa kau tega sekali kepadaku? Kenapa? Sudah kukatakan, Dia bukan wanita yang seperti kau bayangkan !! Apa kau tuli? Buka matamu Bagas! BUKA!! " Bentaknya padaku. Kurasakan Tangan mungilnya tengah memukul dada bidangku. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang sungguh mendalam. Air matanya mengalir menganak sungai.
"Kita cukup sampai disini Bagas. Aku tak mampu menahan semua beban ini. Aku sungguh lelah saat ini. Biarkan aku yang pergi Bagas!" Suaranya melemah. Jari-jarinya dengan halus menyeka air matanya. Aku terlonjak kaget, Bagaimana mungkin dia akan mengakhiri Hubungan yang telah terjalin selama kurang lebih 3 tahun ini dengan mudahnya begitu saja.
Biarkan ku pergi
Karena aku tak sanggup lagi
Mengingat semua kenangan dulu
Disaat engkau menyakitiku
Hatiku bergejolak, darahku berdesir dengan cepatnya. Dengan cepat, kuraih kedua tangannya. Kutatap mata sayunya yang tak mengarah kepada sorot mataku.
"Chels, kau bercanda kan? 3 tahun kita bersama-sama dan kau dengan begitu mudahnya mengakhiri semua? Aku tahu, aku memang salah. Maafkan aku Chels." Sesalku.
Tatapannya -sinis- tertuju padaku. Dia tersenyum, lebih seperti meremehkan.
"Apa? Apa aku tak salah dengar? Kita? Bersama-sama? Haha... Bagas, faktanya kau lebih sering bersama wanita-wanita lain yang selama ini kau sembunyikan dengan cerdasnya dibalik ku. Sungguh Pintar sekali seorang Bagas Rahman Dwi Saputra. Ckck.." Dia tersenyum miring, lantas beranjak pergi dari hadapannku.
Chelsea POV
"Apa? Apa aku tak salah dengar? Kita? Bersama-sama? Haha... Bagas, faktanya kau lebih sering bersama wanita-wanita lain yang selama ini kau sembunyikan dengan cerdasnya dibalik ku. Sungguh Pintar sekali seorang Bagas Rahman Dwi Saputra. Ckck.." Aku tersenyum miring, lantas beranjak pergi dari hadapan Bagas.
Tanpa sepengetahuannya, aku berjalan dengan rapuhnya. Aku kembali menangis merutuki takdir yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta ini.
Apa aku akan sanggup melupakan seorang pria yang ku cintai dan kusayangi dengan tulusnya? Apa aku sanggup meninggalkannya? Entahlah. Tapi, aku sangat lelah dengan semua ini. Semua yang sudah digariskan oleh - Nya.
Akan ku serahkan semuanya pada Sang Kuasa. Mungkin, jika aku dan dia berjodoh. Kita akan dipertemukan lagi, entah itu kapan dan dimana. Tapi jika kita tidak berjodoh. Biarkan kisah ini menjadi pembelajaran hidup bagiku.
...
Still you never said goodbye and now I know ..
How far you'd go
I know I let you down but it's not like that now..
This time I'll never let you go
Bagas POV
Aku menatap langit malam dari balkon atas. Langitnya cerah, tapi entah kenapa hatiku merasa berbanding terbalik dengan langit malam ini. Kita cukup sampai disini Bagas. Ucapan Chelsea tadi seolah - olah menghantui pikiranku saat ini.
"Aku tak bisa tinggal diam dengan ini. Besok aku harus menemuinya. " tekadku, lantas ku berjalan memasuki kamar.
Keesokan Harinya..
"APA?? Chelsea pergi bi?" Kagetku setelah mendapat kabar, bahwa malam tadi. Chelsea pergi ke London.
"Iya den, non Chelsea bilang, dia mau melanjutkan kuliahnya disana. Dan ini -menyerahkan sebuah amplop- titipan dari non Chelsea buat den Bagas. Kalo begitu, bibi masuk dulu ya den." Jelas Bi Tuti.
Perlahan ku buka amplop berwarna merah ini. Kulihat, didalam terdapat secarik kertas. Perlahan kubaca dengan seksama.
Dear Bagas..
Aku tahu, kau pasti sangat terkejut mendengar kabar bahwa aku terbang ke London. Aku ingin melanjutkan kuliahku Bagas. Kau sekarang akan lebih bebas bukan? Dan inilah yang terbaik bagi kita, khususnya aku Bagas. Bagas, kau tahu? Sesungguhnya, aku masih sangat mencintaimu. Tapi apadaya, takdir telah menggariskan semua ini untuk kita. Akupun juga sudah lelah dengan sikapmu yang seakan -akan tak pernah menganggapku ada. Entah 3 tahun itu berarti untukmu atau tidak. Aku tak mau tahu dan tak pernah mau tahu. Bagas, jika kita masih ditakdirkan untuk bersama, aku ingin. Saat aku kembali lagi, aku ingin melihat sosok Bagas yang hanya mengabdi pada satu hati dan setia pada satu nama. Apa itu terlalu sulit untukmu?
Bagas, untuk saat ini. Aku hanya ingin sendiri. Jadi kumohon jangan pernah mengganggu aku saat ini.
Terimakasih.
With Love,
Chelsea
Aku menghela nafas panjang. Ya, benar kata Chelsea. Takdir telah menggariskan semua ini. Aku tahu, aku telah mengecewakan wanita sepertinya. Namun sekarang dan esok, tidak akan seperti itu. Dan takkan kulepaskan dirinya lagi. Mulai hari ini, aku akan membuka lembaran baru sebagai sosok yang diharapakan Chelsea.
I will be all that you want
And get myself together
Cause you keep me from falling apart..
All my life I'll be with you forever..
To get you trough the day and make everything OK.
Aku akan menjadi seperti yang dia inginkan. Dan akan kulakukan dengan sepenuh hati. Karena dia telah menghindarkan aku dari kehancuran dan mengajarkanku arti hidup yang sesungguhnya. Kini ku bertekad, sepanjang hidupku aku akan bersamanya selamanya. Aku ingin menemani hari-harinya dan menyelesaikan persoalan bersama.
"Pak Bagas, 5 menit lagi meeting akan segera dimulai." Ungkap sekretarisku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku mulai memakai jas ku yang tersampir di kursi kerjaku. Ku langkahkan kakiku menuju ruangan meeting dengan tanganku yang sibuk
membenahi dasi.
Karena pandanganku terfokus pada dasi. Aku tak dapat menghidari tabrakan dengan seorang wanita.
Kulihat dia sedang menunduk sembari membersihkan roknya.
"Maaf." Ujarnya lantas mendongak kearahku.
Bukan aku yang mencarimu
Bukan kamu yang mencari aku
Cinta yang mempertemukan
2 hati yang berbeda ini
Astaga! Wanita itu.
Aku terpaku sejenak. Apakah benar, didepanku ini adalah seorang wanita yang pernah aku lukai hatinya tempo dulu? Ya Tuhan, dia tampak lebih dewasa dengan balutan bleezer biru serta rok hitam. Rambutnya panjang dikerinting gantung. Tampak Natural. Aku mengerjapkan mataku berkali - kali, membuktikan bahwa ini hanyalah mimpi. Tapi apadaya, semuanya murni terjadi. Dia -Chelsea- gadis yang beberapa tahun ini ku nantikan kehadirannya, telah berada didepanku persis.
Oh Tuhan! Kejutan yang sangat mengesankan untukku saat ini.
****
Saat ini, aku dan Chelsea telah duduk berhadapan di meja restaurant dekat kantor. Sungguh, tatapanku tak bisa lepas dari gerak geriknya. Kulihat dia, mengangkat tangan kanannya untuk memanggil seorang pelayan.
"Kau mau pesan apa?" Tanyanya padaku. Matanya tertuju pada deretan menu yang telah disediakan di buku daftar menu.
"Steak cumi dan Cappucino saja."
"Baiklah, saya pesan Salad dan Cappucino." Ujarnya pada pelayan tersebut. Setelah dirasa pelayan itu pergi, aku mulai membuka bicara.
"Lama tak bertemu, kau sudah luluskah di London?"
"Sudah. Aku sangat bahagia tinggal disana bersama bibi ku. Mendapat gelar S2 sangatlah bangga untukku. Teman-teman disana juga sangat mengasyikkan. Jadi, kau sendiri bagaimana?" Balasnya.
"Aku? Ya beginilah sekarang. Melanjutkan perusahaan Papa sebagaimana amanat beliau. Kau tahu? .." ucapku terpotong.
"Tidak, aku tidak tahu." Jawab
gadis itu polos. Aku haaya mengernyitkan alis.
"Aku belum selesai bicara. Bisakah kau tak memotong pembicaraanku?" Nada suaraku terlihat kesal, hingga membuat gadis itu terkekeh pelan. Manis sekali.
"Maaf. "
"Kau terlihat.. sangat dewasa saat ini. Dan kau tampak lebih cantik.memangnya Apa saja yang kau lakukan disana?" Tanyaku setelah pelayan tadi menyodorkan makanan yang Chelsea pesan tadi.
"Kau bisa saja. Aku hanya menjaga pola makanku dan aku lebih sering berolahraga saja. Dan sekarang, I'm Vegetarian. Hihi.." Jawabnya lantas menyeruput Cappucinonya.
"Pantas, kau tampak lebih langsing sekarang."
"Begitukah? Kau terlalu memperhatikanku ya?" Tanyanya yang membuatku menggaruk tengkukku yang tak gatal.
Aku dan Chelsea lantas melanjutkan makan siang kami yang sempat dibuka dengan perbincangan ringan.
****
"Bagas, terimakasih ya tadi. Aku harap kita dapat bertemu kembali." Pamit Chelsea setelah keluar dari mobil.
"Sama-sama. Masuklah! Angin malam tak baik untukmu!" Ujarku
"Baiklah."
Dengan langkah anggun, Chelsea memasuki pekarangan rumahnya. Sungguh wanita yang sempurna, batinku. Wanita itu telah kembali. Dan aku bertekad akan memilikinya kembali. Kali ini, tak akan kulepaskan lagi. Setelah berdebat dengan pikiranku. Kunyalakan mesin mobil dan langsung melesat pergi.
****
Hari ini, aku di bujuk oleh papa untuk menghadiri pertemuan orang-orang penting. Ah! Sungguh malas sekali rasanya menghadiri acara itu. Karena tak mau mengecewakan beliau. Akhirnya kuputuskan untuk berangkat saja. Toh, disana pasti ada makanan lezat yang menggugah selera. Haha..
Banyak sekali orang-orang yang memenuhi ball room hotel ini. Kulihat, yang mendominasi adalah para tetua. Dan tak sedikit yang tak kukenal. Sungguh tempat yang membosankan!
Oh Hei! Aku melihat seorang wanita yang amat sangat kukenal tengah berdiri dengan beberapa orang. Dengan senyum yang langsung terukir indah diwajah tampanku. Aku berniat untuk menghampirinya.
"Chelsea." Panggilku sopan.
Kulihat dia menoleh kearah ku. Seketika, bibirnya merekah sempurna.
"Bagas? Kau disini juga?"
"Ya seperti yang kau lihat. Aku disuruh Papa untuk menghadiri acara yang membosankan ini. Kau sendiri?" Ujarku
"Aku hanya menemani.." ucapnya terpotong.
Karena kamu nyawaku
Karena kamu nafasku
Karena kamu jantungku
Karena kamu.. rapuh hidupku
Remuk Jantungku..
"Sayang, ternyata kau disini. Aku mencarimu kemana-mana. Oh iya, kau siapa ya? -Tatapannya beralih kepadaku-" Ujar seseorang. Tepatnya pemuda, dari penampilannya, dia sangat berwibawa. Tapi, dia siapa? Berani-beraninya memanggil Chelsea dengan sebutan sayang.
"Em, Bagas. Ini Karel tunanganku." Sebuah penjelasan singkat yang mampu merobohkan segalanya.
Tunangan? Jadi Chelsea sudah bertunangan? Ya Tuhan! Cobaan apalagi ini? Aku diam. Aku bisu seketika. Semua pergerakan tubuhku terasa terdisfungsi. Nafasku memburu.
"Karel, ini Bagas. Temanku." Ujar Chelsea pada Karel.
Sebatas temankah?
Aku hanya tersenyum getir. menatap kedua manusia itu. Jika dilihat, mereka memang pasangan yang sangat serasi. Sakit sekali rasanya...
****
Ini Karel tunanganku
Ini Karel tunanganku..
Ucapan Chelsea tadi terngiang-ngiang dibenak ku. Kenapa semuanya begini? Adilkah Tuhan? Saat semua kembali lagi dan ku mulai membuka lembaran baru serta semua yang sudah kupersiapkan saat ia meninggalkanku 6 tahun lamanya dan saat ia melontarkan sebuah ucapan singkat yang mampu menghancurkan semua harapanku.
Malam ini, hanya langit malam yang menjadi saksi bisu kenelangsaan hatiku saat ini. Kenapa rasanya aku ingin menumpahkan semua kesakitanku dengan menangis. Tapi, aku sangat pantang dengan namanya menangis. Jadi, aku harus bagaimana saat ini?
****
Author POV
Di sisi lain...
Chelsea juga tengah termenung menatap langit-langit kamarnya. Ia bimbang. Apakah ucapannya tempo hari membuat Pria yang masih dicintainya terluka? Tapi tunggu, memangnya Bagas masih mencintainya? Apa hanya Chelsea yang terlalu berharap? Mungkin...
"Maafkan aku Bagas."
Setelah berujar seperti itu, Chelsea memutuskan untuk terlelap bersama semua kebimbangan hatinya saat ini.
****
1 Bulan kemudian..
Setelah berpikir matang-matang. Bagas memutuskan untuk menerima tawaran Papanya untuk terbang ke Jerman. Ia diberi mandat oleh papa nya untuk mengelola perusahaan milik keluarganya disana untuk beberapa tahun. Lagipula disana juga dapat membantunya untuk melupakan wanita yang masih dicintainya saat ini.
Move on? Hhhh...
*****
This Innocence is brilliant, i hope that it will stay.
This moment is perfect, please don't go away, I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
Hari ini, cuaca kota Bandung cukup cerah. Terbukti dengan sang mentari yang selalu menyinari setiap langkah Pria dengan koper yang berada digenggamannya. Didudukan tubuhnya pada kursi tunggu. Matanya menatap ke segala arah. Berharap menemukan keajaiban agar ia dapat membatalkan kepergiannya. Tapi, itu semua itu tak mungkin. Ia harus tetap pergi dan meninggalkan wanita yang masih dicintainya sampai saat ini.
Akankah ia sanggup meninggalkan wanita itu. Tapi, mengingat harapannya yang telah pupus oleh takdir yang digariskan Sang Pencipta. Ia harus bagaimana lagi? Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
Bagas melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. Sudah waktunya! Ia beranjak dari kursi dan berjalan menggeret kopernya menuju pesawat.
Tak ada keajaiban...
Baru beberapa langkah berjalan. Bagas dikejutkan oleh teriakan seseorang. Bagas lantas menoleh kebelakang mencari sumber suara tersebut.
"BAGAS!"
Teriakan orang itu menggema diseluruh penjuru Bandara. Tanpa menunggu waktu lama lagi, orang itu langsung memeluk tubuh kekar Bagas. Ia terkejut bukan main. Pasalnya, orang yang sedang memeluknya saat ini adalah wanita yang ia tunggu kedatangannya dari awal.
"Bagas. Kau jangan pergi! Kau jangan meninggalkanku seperti aku meninggalkanmu dulu. Aku mencintaimu Bagas. Sungguh.. dan Jangan berpikir kau boleh pergi dari sampingku. Jangan tinggalkan aku sendiri Bagas." Penuturan Chelsea seketika membuat Bagas bungkam. Ia tak paham dengan semua ini.
"Chelsea.. kau?"
"Bagas, jika kau berpikir aku mencintai Karel. Kau salah besar. Aku sama sekali tak memiliki perasaan lebih padanya. Tunangan itu, aku dipaksa oleh Ayah. Jadi kumohon. Jangan pergi!"
"Tapi Chels, aku harus pergi." Ujar Bagas penuh sesal.
Chelsea menggeleng berkali-kali. Setetes demi setetes, air matanya mengalir membasahi pipi chubby miliknya.
"Nggak Bagas! Kau tak boleh pergi." Elak Chelsea. mata sayunya mengarah ke mata elang milik pria yang ada dihadapannya itu.
"Maksudku, aku harus pergi bersamamu menuju pelaminan. Hehehe.."
"APA??" Teriak Chelsea dengan muka merah padam. Mungkin menahan maraha ataupun menahan malu. Entahlah...
"Hahah... lucu sekali wajahmu!" Tawa Bagas pecah seketika saat melihat mimik wajah Chelsea.
"Kenapa kau sangat menyebalkan sekali Bagas! Aah.." Kesal Chelsea lantas memukul lengan Bagas menggunakan tas selempang yang dipakainya.
Tiba-tiba, Bagas meraih kedua tangan Chelsea. Mata tajamnya menatap Chelsea dalam-dalam.
"Chelsea, aku serius. Aku ingin menjagamu, melindungimu, merawatmu dan aku ingin hidup bersama denganmu. Chelsea, sekali lagi kukatakan. Maukah kau menjadi istri untukku dan Ibu bagi anak-anakku?" Ucap Bagas dengan mantap sekaligus dengan tingkat keseriusan mencapai tingkat maksimal.
"Bagas..ak..aku.." Chelsea bingung harus menjawab apa. Kenapa momentnya harus mendadak seperti ini? Aah.. aku sangat salting dibuatnya. Batin Chelsea.
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama & terakhir
Jangan kau tolak dan
Buatku hancur
Ku tak akan mengulang
Tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
"Jawab Chelsea..!" Ujar Bagas dengan selembutnya.
Chelsea tersenyum menatap Bagas. dengan mantap, Chelsea menganggukkan kepalanya.
"Jadi..?"
"I would Bagas!" Jawab Chelsea. Bagas yang mendengar itu langsung bernapas lega dan menarik Chelsea kedalam pelukannya.
Everything you ask for
Nothing is above me
I'm shining like a candle in the dark
when you tell me that you love me.
THE END